Kemwil JSIT di Prambanan

Mengantar mereka mengenal teman-temannya, Bercanda dalam suka, belajar dalam gembira, Itulaha dunia mereka, anak-anak kita, amanah kita.

Kecil-Kecil Jadi Haji

Senyum yang merekah dari bibirnya yang masih balita, Polos pandanganya, Mereka akan selalu senantiasa gembira, Mereka amanah kita.

Out bond di Pantai Sigandu

Terik membakar suasana, tapi ada gembira di sana, semangat yang menyala, serta tawa canda yang tak terlupa

Kelasku Mengajar

Ini kelasku saat mengajar kelas dua, lucu-lucu mereka, sekarang sudah kelas lima. Diantaranya barangkali akan jadi presiden atau tentara

Sekolahanku

Sekolahanku masih sederhana, baru sampai kelas lima, tapi tak mengapa karena ada semangat di sana

Kelas 3 (Ar Rahman Class)

Ini kelasku yang baru. Ar Rahman namanya. Ini foto ketika anak-anak akan melakukan pawai tarhib ramadhan..Meriah sekali dengan warna-warni hiasan yang mereka buat sehari sebelumnya..

Tampilkan postingan dengan label puisi bunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi bunda. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2011

IBUNDA

Ibunda, cinta itu seperti apa?
Jika engkau laut,
bagiku mencintaimu lewat perahu.
Jika engkau angin,
bagiku mencintaimu lewat layar.
O. laut adakah tempat untuk menampung perahu dan layarku?
(F, 21:26)
seperti inikah Bunda?
Aku melihat sungai mengalir diwajahmu.
Udara adalah kulitmu.
Dan matamu kulihat pada segala yang kulihat:
serupa cermin yang murni.
Sekali kau berkata padaku,
lewat bunga yang mekar serupa merah bibirmu.
Serupa keabadian yang jatuh ke dalam waktu.
Engkau adalah peristiwa yang runtuh di masa lalu.
Engkau adalah masa depan yang menyusup ke dalam mimpi sadar.
( F, 02:21)
seperti inikah bunda?
Aku lihat,
wajahmu tergantung bersanding elok wajah purnama,
di cakrawala timur…
(F, 19:12)
seperti inikah bunda?
Lewat malam yang sederhana.
Kita saling menyapa puisi.
Seperti keakraban sebuah doa.
Aku mengetuk kata,
Kau membuka jiwa lalu pada sebuah jarak.
Kau memintaku mengirimkan kabar,
kabar yang jauh,
penuh dengan dongeng-dongeng.
Kita merangkak dengan sabar,
menelusuri masa silam…
(F, 21:57)
seperti inikah bunda?
Kumasukkan musim hujan,
ke dalam sampul putih.
Kutoreh tanda petir di samping alamat,
Agar lekas tiba dan segera kau baca,
betapa gigil itu selalu menggelepar.
(F, 19:40)
Seperti inikah bunda?
Lalu bagaimana dengan gerimis dan senja hariku?. Mereka kucintai sejak aku bisa merasa bahagia, bersedih, gelisah, rindu, tertawa dan menangis akan kehadirannya.
Bunda, 2 purnama ini, gerimis dan senja hariku nampak memerah muda ketika larik ini tertulis begitu saja.
Di beranda
sampai jauh malam
aku menunggu
seseorang,
yang sebagian rasaku ada padanya.
yang aku tidak mau terlelap,
sebelum ia benar-benar tertidur.
(bunda menatapku dalam.
Sambil tersenyum beliau berkata: “iya nak, itu cinta”.
lalu bagaimana bunda? tanyaku.
simpan di kedalaman hatimu anakku,
sampai tiba waktumu…)